Friday, 15 November 2013

Immortals of Meluha: the Indonesian translation by Mizan



I received very good news last Tuesday when Bebe, one of my best friends in Bali, told me that The Immortals of Meluha (Book One of the Shiva Trilogy) has been translated to Indonesian by Mizan. Better, the book has been read by her friends who in return became big fans of the Trilogy, or at least its first book. Intrigued, I searched for the book at the local Gramedia at Kuta last Wednesday and was happy to find that it was prominently displayed there. I usually avoid reading the translation because we tend to miss the nuance in the translation, not to mention cases of really bad translations that left me with no choice but sourcing the English versions online. 

I’m glad to report that this is not the case with The Immortals of Meluha. I dare say translator Nur Aini was doing a very good job at this, such that I recommended the book back to Bebe (who had only seen it without purchasing/reading it). I also went to the Denpasar Gramedia today just buy two extra copies. Turns out, they have only four copies left, and I couldn’t find them in the store. The store assistant said that this book is a bestseller, so it runs out quickly. Well, there you go.

So anyway, I thought I’d better give a review of the Indonesian translation of Meluha. Because I’d like my fellow Indonesians who don’t usually read English find this post, from here on I will switch to Indonesian language. But just to give my impression of the book in an English nutshell, I think Mizan (the publisher/translator/distributor) did a good job at translation and re-designing the cover (tho I still think the original cover is very powerful). I’m surprised that we didn’t detect this version earlier tho, for it was first published in April this year. Better late than never, I guess.

Immortals of Meluha: impresi saya

Jadi ceritanya, selama hampir 1.5 tahun saya dan Bebe telah jatuh cinta dengan Shiva Trilogy. Bermula dari bulan Juli 2012 saat saya menemukan buku tersebut online dalam bahasa Inggris, saat sedang keluyuran di dunia maya mencari komik apa saja tentang Shiva. Sebenarnya yang saya pertama temukan adalah YouTube-nya, yang saya muat di sini. Sejak saat itu, saya dan Bebe membaca ketiga buku dalam rentang hampir setahun (paling susah menunggu keluarnya The Oath of the Vayuputra, buku ketiga). Susah juga carinya, karena Amish, walo jagoan marketing, ternyata karena satu dan lain hal tidak menjual bukunya secara luas di luar negeri. Jadinya saya harus mengontak teman saya di India untuk membelikan buku-buku tersebut untuk kami. Untungnya harga buku di India murah banget, jadi kami bisa beli beberapa sekaligus (ada teman kami yang lain yang juga suka).

Tapi karena didatangkan dari India, maka saya dan Bebe adalah salah dua dari sekian sedikit orang di Indonesia yang tahu tentang keberadaan buku ini. Oke, minus teman-teman keturunan India di sini, dan sepertinya Mizan, karena sepertinya editor Mizan juga sudah baca buku ini kalo tidak awal 2012 ya akhir 2011. Jadinya kami hanya bisa berdua bergosip tentang Shiva Trilogy. Untungnya saya suka nulis blog, jadi saya juga bisa curhat di blog ini, plus di Facebook-nya Amish Tripathi. Klik tautan-tautan berikut untuk membaca review saya dalam bahasa Inggris tentang ketiga buku Shiva Trilogy: Meluha, Naga, Vayuputra. Heavy spoilers ahead, jadi kalau tidak mau tahu apa yang terjadi di Buku Dua dan Tiga, jangan baca ya!

Karena ketiga buku tersebut sudah saya review, maka saya akan berusaha untuk tidak mengulang review saya tentang Meluha. Tapi saya akan sedikit memberikan beberapa info, terutama bagi teman-teman yang kurang atau memang tidak mendalami hikayat-hikayat dari India Kuno dan sekitarnya.

The Shiva Trilogy ditulis oleh Amish Tripathi, seorang penulis yang dulunya banker. Trilogi ini adalah karya pertama dia; Meluha adalah asli novel pertama dia. Amish suka meramu kejadian-kejadian sejarah dan mitologi dan memasukkan unsur interpretasi modern ke dalam Trilogi ini. Malah terkadang terlalu modern, menurut saya. Tapi mungkin itu salah satu hal yang menyebabkan novel ini laris manis di India: karena dapat menarik para pembaca muda yang biasanya tidak mau membaca novel genre ini. 

Peta Negeri Meluha, Swadeep, dan sekitarnya (dari situs Amish)


Meluha (atau Meluhha, atau Melukha) adalah nama kuno yang digunakan untuk menyebut Peradaban Lembah Sungai Indus sekitar 4.000 tahun yang lalu, saat peradaban Mesopotamia, Asiria dan Sumeria sedang jaya-jayanya. Kisah Shiva di trilogi ini dimulai sekitar tahun 1.900 SM pada saat Peradaban Lembah Indus hampir berakhir. Menurut penelitian, berakhirnya peradaban ini terjadi karena mengeringnya Sungai Saraswati yang mengalir dari Himalaya ke Laut Arab. Saat Shiva memulai petualangannya di Negeri Meluha, sebenarnya Sungai Saraswati sudah mulai mengering. 

Dalam budaya Veda, Shiva adalah salah satu dari Trimurti (selain Brahma dan Wisnu). Sebagai seorang Shiva-bhakta, saya sering merasa representasi Shiva di buku-buku pelajaran umum sering kurang pas. Shiva sering disebut sebagai Sang Perusak, as if kerjanya adalah merusak. Padahal kalo lihat representasi Shiva di India, Shiva sering digambarkan sedang tersenyum damai dan bermeditasi. Orang Bali menggunakan istilah yang lebih pas, yaitu Sang Pemralina atau Pelebur. The Recycler. Dalam Shiva Trilogy, Shiva disebut sebagai The Destroyer of Evil. Sang Pembasmi Kejahatan. Menurut saya, representasi ini lebih pas dibanding hanya sebagai ‘Sang Perusak’. Shiva juga sering disebut sebagai Nataraj, THE Dancer. Sang Penari Utama. Dalam Meluha, Shiva sering digambarkan sedang menari, kalau tidak untuk memukau Sati, ya untuk melepas stress. 

Patung Durga di Prambanan
Dalam Meluha, Sati adalah pasangan Shiva. Dalam Purana (hikayat kuno yang berbau sejarah), Sati adalah pasangan pertama Shiva. Dikisahkan dalam Purana, Sati meninggal membakar diri karena ayahnya (Raja Daksha) mempermalukan Shiva di depan umum. Latar belakangnya panjang, tapi yang jelas Shiva jadi patah hati luar biasa. Setelah menghancurkan kerajaan Daksha, dia mengasingkan diri lama sekali hingga Sati lahir kembali menjadi Parvati. Parvati kemudian berhasil membangunkan Shiva dari pengasingan dan meditasinya. Setelah melalui beberapa bab cerita, akhirnya Shiva dan Parvati menikah.  Di dalam Purana, tidak diceritakan bahwa Sati adalah seorang pendekar wanita. Yang jadi pendekar wanita adalah Durga, the improved version of Parvati. Di Indonesia, kita kenal versi Durga ini sebagai Durga Mahsasura-mardini, seorang dewi yang sering terlihat dalam pose sedang menginjak seorang iblis berbentuk kerbau. Namun di Shiva Trilogy, Sati digambarkan sebagai seorang pendekar wanita yang sangat ahli bermain pedang dan ilmu perang. Saya suka penggambaran Sati seperti ini. 
 
Shiva dan Parvati (reinkarnasi Sati di Purana)
Saya suka sekali dengan penggambaran cinta antara Shiva dan Sati di trilogy ini. Sejak tahun 2003-an saya tergila-gila dengan kisah cinta Shiva-Parvati dan juga Shiva-Sati. Amish menggali kisah cinta itu dengan baik dan mengembangkannya sesuai selera modern tanpa kehilangan setting 1.900 SM.

Amish juga memasukkan beberapa tokoh yang memang sering muncul di hikayat-hikayat Shiva serta Hindustan pada umumnya. Saya tidak mau cerita di sini, nanti terlalu banyak spoilers. 


Impresi tentang terjemahan 

Okay. Berikut ini adalah pendapat saya tentang terjemahan Meluha dari Mizan. Penterjemahnya adalah Nur Aini, penyuntingnya Agus Hadiyono dan proofreader Yunni Yuliana. They did a great job at translating this great book, methink. 

Yang perlu dibetulkan dulu ya: we need the MAP (lihat peta di atas). Dalam bagian dalam front cover buku asli, ada peta Meluha, Swadeep dan negeri-negeri sekitar. Tidak adanya peta ini membuat pembaca jadi bingung, ini negara di bagian mana, sungai ini di bagian mana, dll. Peta ini SANGAT PENTING SEKALI dan sebaiknya dimasukkan ke dalam terjemahan Buku Dua (Naga) dan Tiga (Vayuputra).



Covernya bagus, desain oleh BLUEgarden. Saya tadinya rada kecewa karena iconic cover dari versi asli tidak dipakai oleh Mizan. Kata pegawai Gramedia sih tadinya covernya pakai yang asli, tapi kemudian diganti yang baru dengan hanya menunjukkan Trisula yang seperti sedang terbang, dengan beberapa aksara kuno yang dibuat dengan efek Star Trek. Tapi lama-lama (well, dari kemarin pagi sih), jadi suka juga dengan versi baru ini.

Untuk terjemahan, seperti saya katakan di awal, Nur Aini membuat terjemahan yang bagus sekali untuk buku ini. Secara keseluruhan, buku ini tetap enak dan menarik untuk dibaca dalam bahasa Indonesia. Saya senang karena ‘Shiva’ tidak dibahasa-indonesiakan menjadi ‘Siwa’, karena asli akan mengurangi rasanya. Memang klan Vasudeva ditulis sebagai ‘Basudewa’, dan Vayuputra ditulis sebagai ‘Bayuputra’, tapi gapapalah. Yang penting Shiva dan Veerbhadra tidak diindonesiakan jadi Siwa dan Wirabhadra...

Tapi karena saya punya versi bahasa Inggrisnya, saya jadi paham ada beberapa terjemahan yang kurang pas. Ada beberapa kata yang menurut saya sebaiknya diganti, misalnya kata ‘angkuh’ untuk ‘proud’. Seperti ini:

“[Ayurvati] collapsed with her back against the wall, never once taking her eyes off Shiva. Tears broke through her proud eyes.” (p. 23 English version)

Diterjemahkan menjadi:

"[Ayurvati] roboh dengan punggung bersandar ke dinding. Matanya terus memandang Shiva. Air mata merebak di matanya yang angkuh.” (hal. 48 versi Indonesia)

Ayurvati adalah salah satu dokter terbaik di Meluha (Nur Aini menterjemahkan ‘doctor’ menjadi ‘tabib’, dan saya suka, karena kedengarannya rada antik). Karena kepandaian dan pengalamannya, Ayurvati memiliki rasa percaya diri yang cukup tinggi. Dia juga bangga dengan apa yang sudah dia capai selama ini. Bangga, pride. Proud. Tapi bukan angkuh atau sombong. Bukan arrogance. Menurut saya, proud di sini sebaiknya diartikan sebagai ‘bangga’ atau 'percaya diri'. Semacam ‘air mata merebak di matanya yang biasanya memancarkan kebanggaan [atau 'rasa percaya diri’]'.

Lord Shiva meminum halahala (racun yang sangat mematikan)

Kemudian ada satu kata yang sepertinya memang sengaja tidak diterjemahkan. Kata tersebut adalah marijuana. Ganja. Hal. 52-53:

“Shiva duduk di taman kerajaan di tepi Danau Dal. Sementara itu, Bhadra duduk di sampingnya sambil mengisi pipa dengan hati-hati./.../Bhadra diam. Shiva mengulurkan tangan dan mengambil pipa dari tangan Bhadra. Dia mengisap dalam-dalam.”

Sebenarnya, aslinya adalah (p. 27):

“Shiva was sitting in the royal gardens on the banks of the Dal Lake while his friend sat by his side, carefully filling some marijuana into a chillum./.../Bhadra stayed silent. Stretching his hand, Shiva grabbed the chillum from Bhadra. He took one deep puff, letting the marijuana spread its munificence into his body.”

Saya bisa mengerti kenapa kata marijuana itu dihilangkan; bisa mumet nanti Mizan menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh. Tapi memang di Purana diceritakan bahwa Shiva menghisap bhang, atau marijuana lokal. Purana merupakan kumpulan hikayat-hikayat lama yang selalu diceritakan ulang, dan agak sulit untuk dilihat hanya sakleg verbatim. Bhang merupakan marijuana lokal Hindustan yang juga memiliki fungsi pengobatan. Menurut saya, Shiva menghisap bhang karena untuk unsur pengobatan karena Shiva pernah menghisap racun paling mematikan yang disebut Halahala (gara-gara para Dewa dan Asura rebutan Amrita, atau ramuan sakti mandraguna yang ada di dalam lautan) dalam hikayat Samudera Manthan. Jadi tidak benar jika para pengikut Shiva lantas menggunakan alasan bahwa Shiva-ji menghisap bhang, jadinya mereka boleh menghisap bhang juga. Hisap dulu racun dunia kali, baru boleh coba-coba hisap bhang!

Tapi dalam Trilogy Amish menggunakan alasan lain untuk menjelaskan mengapa Shiva menghisap bhang. Bhang dapat membuat orang yang menghisapnya kehilangan memori. Shiva diperingatkan oleh Begawan Brahaspati bahwa menghisap marijuana itu tidak baik karena antara lain bisa membuat orang lupa. Tapi Shiva sesungguhnya melakukannya justru karena takut tidak bisa lupa. Tidak bisa melupakan sebuah kejadian buruk di masa lalunya.

Minas Tirith dalam Lord of the Rings

Kota-kota di Meluha dibangun di atas sebuah platform untuk menghindari banjir musiman sungai-sungai besar di Meluha (Indus, Jhelum, Chenab, Ravi, Bea, Sutlej dan Yamuna – dua terakhir bersatu menjadi Saraswati). Nur Aini menterjemahkan platform sebagai ‘dataran raksasa yang ditinggikan’ (hal. 100-101), yang agak membuat bingung pembaca. Menurut saya, terjemahan Nur Aini bisa digunakan. Hanya saja, sebaiknya dijelaskan dulu bahwa maksudnya itu platform. Platform ini bisa dibayangkan seperti kota Minas Tirith di hikayat Lord of the Rings-nya Tolkien. Omong-omong, ibukota Meluha (Devagiri) dibangun sebagai platform dengan tiga tingkat (emas, perak dan perunggu). Dalam Buku Tiga, ketiga sub-platform ini akan bertaut lagi dengan satu legenda tentang Shiva (tapi itu nanti, supaya tidak bocor...).

Cravat
Hanya satu lagi nitpick saya untuk terjemahan Nur Aini (sebenarnya menurut saya, saya mungkin tidak bisa menterjemahkan Shiva Trilogy sebaik dia. She really did a great job at this!). Yaitu tentang cravat. Karena saya penggemar British period drama, jadi saya tahu banget apa itu cravat. Cravat adalah semacam dasi kupu-kupu tempo dulu yang digunakan oleh para pria di daerah leher kemeja mereka. Cravat biasanya terbuat dari kain putih atau warna netral, agak panjang dan diikat sedemikian rupa sehingga mirip dasi kupu-kupu jaman sekarang. Menurut saya, cravat sebaiknya diterjemahkan saja menjadi ‘syal pendek’ yang cukup panjang untuk menggubet atau menutupi leher Shiva yang biru itu.



Kesimpulannya

Selain dari nitpick-nitpick di atas, saya merasa puas dengan terjemahan Mizan untuk The Immortals of Meluha. Saya juga senang karena judulnya tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kadang justru itu membuat rasa jadi berkurang, jika tidak tiada. Tidak apa sih jika ada second title dalam bahasa Indonesia. Tapi kalo dijadikan judul resmi, rada kurang pas. Lagian apa ya, judulnya? Masak ‘Manusia Meluha yang Abadi’? Pasti harus cari judul lain yang juga meninggalkan impresi yang cetar membahana seperti judul aslinya.

Sebagai penutup, saya mengucapkan terima kasih dan salut kepada Mizan untuk terjemahan ini. Meluha merupakan novel yang sulit untuk diterjemahkan, bukan karena bahasanya (Inggrisnya Amish enak dipahami dan cukup mudah diterjemahkan), namun karena konsep-konsep Vedic yang rada sulit untuk diterjemahkan langsung. Plus, Shiva di dalam The Shiva Trilogy adalah Shiva yang (meminjam vernacular teman saya Bebe) ‘suka misuh-misuh dan ngeganja’. Tadinya saya dan Bebe sudah pasrah, pasti ini novel tidak bakal diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Tapi ternyata malah sudah diterjemahkan, dan (at least di Bali) jadi buku laris. Syukurlah. Paling tidak, saya bisa kasih kado ke teman-teman saya yang suka baca cerita legenda atau hikayat kuno tapi kurang fasih berbahasa Inggris (atau yang bisa Inggris tapi malas untuk selalu buka kamus).

Thanks, Mizan! Buku yang kedua cepat diterjemahkan yaaa...


4 comments:

debby sutopo said...

Whooaa...thanks for the review! Jadi pengen lebih cepet nyelsein pindahan dan baca versi terjemahannya. Sumpah gue penasaran bagaimana 'pisuhan'nya Shiva diterjemahkan...hahahaha...misuh-misuhnya ini yang bikin aku makin cinta... Sangat manusiawi, ekspresif dan PD tampil sebagai dirinya (ya iyalaaahh Shiva geto lowh!)

Yaaak...big boss Aslan sudah bangun...to be continued...

Icha said...

Thanks a lot Bunda Bebe! Silakan cepat pindahan dan baca versi terjemahannya yaaa! Ntar kita book club ma temen2 yang lain sambil dinner, hehehe...

Sorrow Wiwiek said...

Beli dimna yah? Info dong....

bener2 lagi pingin baca buku ini......

plis infonya....

Sorrow Wiwiek said...

Beli dimna yah? Info dong....

bener2 lagi pingin baca buku ini......

plis infonya....